Thursday 17 June 2010

Membedakan antara Batik Tulis, Cap dan Printing

Sebagian besar orang mungkin belum bisa membedakan antara batik tulis, cap dan printing. Berikut adalah beberapa cara untuk mengetahui perbedaan ketiga jenis batik tersebut.
Batik tulis, yang diakui UNESCO sebagai mahakarya tak benda dunia bisa dilihat keasliannya dari motifnya. Pada batik tulis, detil motif yang ada tak akan pernah terlihat sama persis antar detil satu dengan yang lainnya. Hal tersebut karena motif tersebut dikerjakan dengan tangan manusia.

Batik tulis asli mungkin detil motifnya bisa saja berbeda satu dengan lainnya, dikarenakan buatan tangan manusia.

Kalau dulu mungkin lebih mudah untuk membedakan antara batik tulis asli dan printing, tapi kalau sekarang, para pembuat batik printing juga lebih pintar untuk memirip-miripkan batik buatannya agar terlihat seperti batik tulis.

Sekarang, beberapa batik printing pun dalam penbuatannya telah dicelup dengan malam dingin agar memberikan aroma malam dalam kainnya. Tapi yang jelas, batik printing tidak melalui proses membatik alami dengan malam.

Untuk itu, cara yang paling mudah untuk membedakan batik tulis asli adalah degan cara melihat kain batik apakah batikannya itu bolak-balik atau yang dikenal dengan istilah dupleks.

Kalau batiknya tidak bolak-balik, maka itu bukan batik tulis. Untuk menghasilkan kain batik tulis berukuran sekitar 1 x 2,1 meter diperlukan waktu paling cepat sekitar enam bulan.

Cukup berbeda dengan batik cap. Batik jenis menengah ini dikerjakan tetap dengan melibatkan proses alami yakni dengan menggunakan malam. Meski demikian, yang membedakannya dengan batik tulis adalah kalau batik tulis murni dikerjakan dengan tangan manusia, tapi kalau batik cap dikerjakan dengan menggunakan alat cap.

Ada alat batik cap yang diciptakan dengan berbagai jenis motif untuk digunakan men-cap kain sutra dengan malam panas. Selembar batik cap bisa dihasilkan dalam waktu sekitar satu jam.

Batik jenis ini, menurut Etie adalah batik yang cukup masuk akal bagi masyarakat untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya jika dibanding dengan batik printing.

Dari berbagai pertimbangan, batik cap itu kemungkinan yang paling bagus dan cocok untuk digunakan. Selain cukup terjangkau, pembuatan batik ini juga relatif lebih cepat dibanding dengan batik tulis. Batik cap juga menerapkan pola duplex.

Meski dibuat secara bolak-balik dengan cap, ciri khas batik cap terlihat dari detil motif yang pada umumnya tercetak sama persis. Hal tersebut karena batik cap dikerjakan dengan menggunakan alat cap yang tentunya akan mempunyai ukuran pola yang telah baku dan persis.

Sementara itu, batik printing yang kemungkinan besar paling banyak beredar saat ini dapat dengan mudah dibedakan dari batik tulis dan cap. Selain dengan mengguakan teknik dupleks, melihat detil pola dan motif, dan mencium kain batik secara langsung, untuk mengetahui batik printing bisa dilihat secara kasat mata.

Biasanya, batik printing justru memiliki warna yang lebih menarik daripada batik tulis dan cap. Hal itu karena pengusaha bisa membuat jenis warna yang mereka inginkan dengan bahan kimia, bukan dari bahan alam seperti batik tulis.

Meski mungkin bisa saja salah, cara termudah untuk membedakan batik tulis, cap, printing, bisa diketahui dari harga yang ditawarkan. Secara umum, batik tulis pastinya dihargai paling tinggi, disusul dengan batik cap, baru kemudian batik printing.

Harga batik tulis bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 10 juta per lembar ukuran 1 x 2,1 meter. Sementara harga batik cap mencaai Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu. Sedangkan batik printing berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu.

Diharapkan masyarakat untuk hanya mengenakan minimal batik cap dalam kegiatan sehari-hari, bukan batik printing atau kain tekstil dengan motif batik. Syukur-syukur bisa menggunakan batik tulis.

Kalau bisa, batik printing hanya digunakan untuk gorden, seprei, dan sarung bantal saja, tapi jangan digunakan untuk pakaian.


Sumber : Gudeg.Net

0 comments:

Post a Comment